"ku yakin kau pasti bisa bangkit"
"jangan anggap kau sendiri hadapi"
"ada aku disini"
"walau dia kini tlah lama dihidupmu"
"namun sampai kini tak bahagiakan kamu"
"lupakan semuanya, oh tinggalkan saja, percuma"
"bukalah matamu selebar dunia ini"
"dan rasakan banyak orang yang peduli"
"jangan ingat lagi, jangan kau sesali, ada aku disini"
sepenggal lirik yang sebagian pasti tidak asing, dan masi ku ulang ulang setiap hari didepan laptopku, sebagian otak masi tercurah untuk LBM ku, yang sebetulnya juga tak seserius itu, ya tapi serius hehe. pernah merasa kan? lagu jadi se booster itu.
dibalik judul "you just don't understand" beberapa hal ingin ku sampaikan perihal proses, perihal perjalanan, perihal peristiwa, dan perihal rasa.
ku mulai dari sini saja, tentang seberapa penting menjadi pendengar yang baik, mengerti dan dimengerti. Sedang ingin bercerita tentang perjalanan skripsi dan hari-hari semester 7, bicara soal fase, dan hal-hal yang berubah setelahnya.
dibilang titik balik, transisi, dan soal keluar dari zona nyaman yang benar-benar akan kalian sadari di masa akhir semester 5 hingga seterusnya.
soal lingkungan, habbit, sampai life syle, meskipun tidak sepenuhnya berubah namun ada sisi dilema tersendiri, terutama soal membalance kan antara lingkungan yang sudah ada tadinya dan lingkungan yang kalian butuhkan pada akhirnya.
Pointnya di "Balancing" , setara, sama, beriringan. manusia tipe seperti saya yang sulit memilih dan tidak suka berada diantara pilihan, seringkali lebih memilih "membalance" kan dari pada harus trade off atau mengorbankan hal lain, satu sisi memang menguntungkan namun sisi lain prinsip seperti ini tak pernah benar-benar bisa diterapkan sepenuhnya, akan ada pilihan-pilihan yang memang memaksamu harus trade off meskipun sulit, tapi baiknya begitu, dan itu tak pernah sesederhana yang dibayangkan.
fase idealis dan realistis, kuliah dimasa tenggang seperti sekarang akan banyak mendengar kalimat-kalimat semacam ini "harus lulus 3,5", "terget skripsi 3 bulan kudu kelar", "malem ini pokonya harus nyari jurnal"," eh skripsian yuk", "eh ntar bimbingan jam berapa", tidur bareng tumpukan jurnal, idup cuma kos -kampus -laptop, laptop- kampus- kos, megang laptop cuma biar tenang aja ya sebenernya ga ngapa-ngapain, fase panik ketika liat story temen didepan laptop, yagitu.
seleksi alam, akan ada yang memilih idealis atau pun realistis, yang tadinya idealis menjadi realistis ataupun sebaliknya, nantinya juga akan berkumpul dengan yang satu frekuensi dan saling melengkapi, intinya satu kalian harus punya tempat dimana kalian merasa "menetap", menetap dalam artian bukan hanya sekedar tempat tinggal, tapi juga merasa diterima dan merasa terdukung, sepele memang kalimat-kalimat semcam itu, coba dijalani dulu saja, nanti kasi tau kesan pesanya. sekali lagi manusia hiperaktif seperti saya lebih sering merasa "menetap" tidak hanya di satu tempat, membalancekan 2 hal saja tidak sederhana dan lagi harus sering pindah dari satu tempat ke tempat lain, suka kecapean sendiri memang, ya kalo rasa yang ini aku tidak bisa jelaskan hehe.
fase dengan beban sks dan kuliah yang sedikit ya sebanding dengan beban pikiran yang tidak lebih sedikit pastinya wkwk, hidup sudah tidak santai ceritanya santai aja ya. manusia ya tetep manusia, kalo belum merasa kehilangan belum bisa memaknai arti momen momen yang sudah terlewat, begitupun sekarang ,waktu smt 1-4 pernah bilang "aku gabut ik, ngapain ya" mau bilang nyesel pernah ngeluh gitu juga wagu rasanya ya to, intinya kalimat itu sangat dirindukan saat ini haha.
fase tidak tertarik pada apapun selain pada hidup sendiri, ada? iya ada, kalo belum ya nanti akan ada.
blank space yang rasanya cuma perlu diisi oleh dirimu saja, dan menyadari satu hal bahwa yang bisa kamu andalkan sepenuhnya ya cuma dirimu sendiri, hal-hal lain akan terkalahkan dan tidak lebih penting dari pada dirimu sendiri dan sekitarmu yang mampu benar-benar mengerti dirimu, perihal mengerti dan dimengerti, ada kalimat semacam ini "sulit memang membuat orang lain mengerti, dan sebaliknya, bisa kah menjadi tidak apa apa saja tanpa saling mengerti" hal itu bisa dilakukan ya cuma kalo kamu diam, bagi saya diam adalah fase tersulit seseorang menghadapi seseuatu, tidak ada hal yang "tidak apa apa" soal diam.
terakhir, "Mungkin saja, kau terbiasa memendam masalah karena setiap kali ingin bercerita, respon yang diterima selalu larangan untuk mengeluh dan penekanan untuk bersyukur, mungkin saja, dunia terlalu sibuk menasehati ketika kau ingin didengar tanpa diintervensi, hingga pada satu titik, kau meledak, dan dunia tidak mau disalahkan" Fiersa Besari~, manusia selalu dengan porsinya, tepat tak kurang ataupun lebih, jangan bandingkan prosesmu dengan proses lainya, jangan merasa masalahmu terberat diantara yang lain, semua berdasarkan porsi dan cara pandang seseorang, Be wise
toh kita semua bersahabat dengan sambat katanya, make a content in your life, ini juga berlaku bagi saya tenang saja, ya manusia yang belum tau harus apa dalam prosesnya, masih lemah cuma karena rasa, tapi bagiku kalian bukan sekedar cuma rasa, yang ku maksud soal "masa tenggang perkuliahan", lalu harus ada banyak hal yang ditinggalkan setelahnya, hehe iya sesulit ini rasanya, mari berproses bersama.
salam 🧡🧡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar