selasa, 25 Febuari 2020. Saya fikir tulisan ini akan menjadi kalimat kelegaan setelah berbulan-bulan berproses, sampai akhirnya bisa kembali pulang sekarang, ternyata bukan. Saya bahkan bingung mau memulainya dari mana, menanyakan kabar pada diri sendiri saja tak sanggup. Sepertinya waktu memang belum benar-benar mengizinkan beristirahat. Ada banyak hal terjadi kali ini yang terparah belum membiarkan air mata saya berhenti selama 3 hari beturut-turut, capek juga ternyata, barang satu atau dua kata pun saya tak ingin bicara, kalimat-kalimat penghibur rasanya hanya membuat saya semakin menangis dan menangis, dan kenapa satu satu nya nama yang terlintas malam itu, detik itu, harus kamu. "km dimana?", "sekarang udh makan?", kalimat pembuka nada manusia yang pura-pura tenang sedang menanyai perempuan yang bahkan suaranya saja gapernah dia dengar satu tahun terakhir, sedang sesenggukan ditelfon. singkatnya cuma manusia itu yang setengah jam nya mendengarkan setiap detik yang sdh seperti neraka bagi saya, ya cuma setengah jam karena keterbatasan koneksi.
saya tidak cukup mampu menggambarkan situasi saat itu terlalu abstrak, meskipun kalimatnya, suaranya saya hafal betul seperti baru kemarin bertemu, tak ada yang berubah sama sekali, meskipun sebenarnya saya tak ingin menuliskan atau melibatkanya lagi dalam bentuk apapun, ntahlah part ini benar-benar melukai lebih parah, meskipun jujur melegakan masi ada media yang sangat mengerti dan siap saya tuangi cerita apapun dengan nyaman, dan respon yang sangat baik. lalu kemudian di susul seorang teman perempuan yang juga melegakan waktunya untuk mendengarkan saya, meskipun tidak ada kalimat yang jelas yang saya ucapkan, malam itu membuat saya merasa beruntung tuhan titipkan banyak hal melaluinya, bukan kalimat "sabar ya, kuat ya" atau kawan kawan nya yg keluar dari mulutnya, saya justru dibuat kuat dengan keteguhan dia akan banyak hal yg saya tidak bisa deskripsikan.
setiap nasihat, setiap penguat, atau setiap penenang yang disampaikan ke saya semuanya membawa nama tuhan, percayalah disetiap lamunan saya skrng pun cuma ada tuhan meskipun tak ada kalimat apapun yang bisa saya sampaikan selain meminta dan meminta, ya tuhan sholat subuh saja saya masih ketergantungan harus dibangunkan, bumbu-bumbu di dapur bahkan saya tidak bisa bedakan, menyampaikan rasa sayang saya yang teramat besar untuk nya pun saya tidak mampu lakukan, lantas apa yang bisa diharapkan dari seorang saya, saya tidak tau doa yang mana dari seorang anak macam saya yang engkau kabulkan, tapi satu hal jika pun nyawa saya bisa ditukarkan saya sanggup lakukan meskipun itu malam ini. Engkau maha tau ketakutan macam apa yang saya rasakan tuhan, angkat setiap rasa sakit ditubuh beliau, sedikitpun bahkan saya tidak mampu memikirkan diri saya sekarang, meskipun beliau teramat sangat memikirkan diri saya, maka saya harus seperti apa agar sedikit saja meringngankanya, sedangkan saya tidak punya kekuatan apapun sekarang.
percakapan kami diakhiri dengan kalimatnya "jangan lupa makan, dan istirahat, ais" kalimat terakhir disitu saya sadar bahwa kita memang sudah asing. manusia cuma butuh dibuat percaya diri bukan dari kalimat "semangat ya" "yang kuat ya" "sabar ya", tp "saya disini dan tidak kemana mana, buat km" cuma itu, bisa tidak temani berjuang untuk yang kali ini saja...