Bagian dari pikiran, perasaan, kejadian, pengalaman, jadi satu dalam sebuah media. I will do, i will love, and i will share.
Minggu, 29 Desember 2019
A whole space
Senin, 28 Oktober 2019
Because You Just Don't Understand
Kamis, 29 Agustus 2019
Magang#1
"aku gatau alasan magang jadi semelow ini setiap harinya"
Sepenggal celotehan perasaan, bukan bagian dari keluhan, cuma rasa penasaran yg belum ku temu jawabnya, ntah sesemangat apapun diriku hari itu dan semenikmati apapun, kau pernah tau perasaan semacam itu?
Biar ku ceritakan pengalamanku saja yg mungkin lebih menarik untuk kau baca ketimbang apa yg ku rasa haha.
Beberapa minggu survive dengan cyrcle hidup yang beda dari biasanya, aku tau waktu tidurku sedang berarti ber artinya, pun arti kalimat "semangat" disaat saat sekarang, juga kalimat yg sungguhan menenangkan yg blm ku temu sampai sekarang.
Cuma butuh 4 hari muka serumit rekening koran, runyam, ah aku masi lucu saja dengan pengalaman itu, yg terus menerus ku eluh kan pada siapa saja yg sedang komunikasi denganku, dilema ku mungkin sebatas "ngrebus air, airnya mateng, aku nya males mandi, abis aku ga males, air nya dingin" kadang yg membuat ku berfikir walau di rumah sendiri, badan semacam jet leg wkw dengan udara, lingkungan, bahkan air, logika dasar semacam itu yg membuatku sadar, setiap tempat adalah adaptasi, selama apapun dirimu disana, segalanya berjalan dinamis yg tidak bisa kau kenadalikan.
Yg berkali kali ku bilang, sehidup sehat itu setiap hari jam tidur selalu tidak kurang dari 8 jam, diwaktu yang tepat, makan pagi, siang, malam, tertata dan tepat pada waktunya, sekarang aku bisa bilang "jangan cari aku di jam 8 ke atas" iya masi lucu saja, dipastikan sudah nyenyak tidurku saat itu, terhitung aku sudah tidak punya waktu tidur siang lagi, kau tau semacam terjebak di kalimat "aku punya waktu banyak, ya tapi tidak" bagaimana ini? Memang cuma punya waktu bupe di jam jam ini, jikapun otaku tak selalu dibuat kerja keras tapi ku kuawalahan menjelaskan bagaimana lelahnya setiap hari.
Setiap hari jg ku dikelilingi mereka yg duduk dengan ambisi ambisi dan tugas-tugas yang masi saja asing ntah harus ku apakan perasaan semacam ini bahkan di satu bulan ku duduk dibelakang mereka, perlu ku jelaskan bukan manusianya yg asing tp perihal dunia mereka, sebenarnya apa yg di rasa, terlalu banyak ku mengamati, sampai senikmat ini dengan wifi yg 20% jadi booster untuk berangkat ngantor.
Suara si pak kasie restruk selalu khas untuk membuatku selalu menahan tawa
Lagu lagu ada band yg sepertinya hampir habis satu album gapernah absen diputar di penghujung hari, rupanya mereka juga semelow itu, iya sama
Cuma suatu hari aku bicara dalam hati
"mas jangan biarkan 2 jam ku kedepan, aku menyelesaikan 2 episode drakor, dan sibuk dengan regal dan wafer tango ku dibelakang kursimu"
Sebenarnya bukan itu yg setiap hari ku lakukan, cuma sedang ingin fokus di hari itu, kadang manusia tidak sadar dengan manusia sekitar yg walaupun termenung tapi mengamati lalu kemudian memposisikan mereka tidak tahu apa apa.
Singkatnya bukan soal teknis yang ku bicarakan, verif rekening koran, stempel berkas, ngurutin berkas, sortir uang, telfon satu persatu nasabah yg jumlahnya ratusan dengan kalimat yg sama, atau senyum yg harus km lontarakan pada senior setiap hari nya ntah serumit apapun perasaanmu, sedikit lebih dalam seandainya laporan tak se resmi itu, mungkin akan berbeda hasil yg di ceritakan untuk dilaporkan, ya itu sekadar fikiran konyol ku saja
Sekarang ku bisa menangkap point dari segala kegiatan ini, harusnya jangan tanya apa yg kau lakukan i mean ini tidak akan banyak, tapi soal kesempatan, kesempatan mengamati yg ku dapat hari ini hingga 5 minggu ke depan. Lalu kau akan dibuat mengerti dibalik kalimat sakti para dosen "kalian harus jadi harapan untuk kelak"
Ya itu saja. Pikiran idealisku berkata
"Dunia ini sungguhan kejam"
Cari tau saja.
Mungkin itu alasan melow nya hahah ah aku ini
Sekarang otaku sedang memutar lagu lagu rindu, dan aku sedang rindu, ya karena banyak, selalu.
2 jam di kursi magangku, 10.00
Masih penghujung agustus.
Sabtu, 24 Agustus 2019
21.05
Matahari masih bersinar di atas kepalaku
Pun degub ini masih sama gilanya ketika yang teringat ialah namamu
Meski samar rasa kepergianmu sesekali menyematkan pilu
Kita yang pergi dengan belum selesainya sesuatu
Rasa yang saling namun tak menyatu
Berserakan sepanjang anak-anak waktu yang sekali lagi kembali membawaku kepadamu
Ketika anginpun tak mampu menghempaskan sedikit dari rinduku yang merangkak kelu
Akan kusimpan sepenggal berkas senyummu sebagai artefak menakjubkan yang pernah kutemu
Kutemu meski tak menjadi milikku utuh
Ialah namamu, detak tak biasa di sela bingar hidupku
Irama irasional mengejutkan yang menguatkan detak rapuhku
Andai bisa merekayasa waktu
Kan ku buat setiap detik menjadi abadi bersamamu
Ialah namamu, yang kepadanya pertanyaan itu bertamu tanpa titik temu
'Akankah kita berani mengakui rindu ?'
Ialah pertanyaanku, yang tak kunjung mendapati jawaban atas namamu
Ialah aku, yang bersembunyi di balik keangkuhan pura-pura tak mencintaimu
Ialah kita, pergi dengan rindu yang dikemas rapi, berselimut sunyi di di balik relung.
Rupanya, kita tak lebih dari sekadar pengecut di hadapan rindu.
Mungkin bukan kita, hanya aku.
--.
[Ialah Namamu]
Ais in autobiography
Oh ya my prime dayli skicare routine cuma 2, air wudhu dan air putih wkwkwk suongong bat! (jangan ga terima gitu bacanya).
kenang-kenangan
satu tahun berproses, satu pun belum ada yg bisa disebut hasil satu tahun berproses, dan Allah tak pernah gagal mendidik hambaNya satu tahu...
-
Yatuhan aku tidak tau tau sampai kapan bodoh diperbudak ekpektasi pada manusia Tidak tau sampai kapan tidak menyadari kebodohan yang sam...
-
kalo aku masih bisa nulis ini tandanya masih dalam kondisi sehat walafiat hati poraporanda. yasudah bukan kronologi yang hendak dicerita...
-
kepada yang terdekat dan yang terjauh, manusia memang tidak bisa mengukur ukuran pasti perihal jarak rasa, tapi sekiranya semua orang tahu b...
